Setahun Menikah Saya Tidak Bahagia Dengan Pernikahan Saya.

Saya seorang wanita berusia 26 tahun dan telah menikah selama kurang lebih satu tahun dengan seorang pria yang berusia jauh lebih tua dari saya yakni 41 tahun. Awalnya saya merasa pernikahan kami baik-baik saja karena toh bagaimanapun dia merupakan lelaki pilihan saya sendiri dan kami tidak dijodohkan oleh orang lain. Sebenarnya juga banyak orang yang melihat bahwa kami nampak cukup bahagia dengan kehidupan kami. Kami juga banyak menghabiskan waktu untuk keluar berdua tapi entah kenapa dibalik itu semua saya merasa batin saya tersiksa. Secara ekonomi kami tentu saja tidak pernah ada masalah. Suami saya mampu mencukupi semua kebutuhan saya dengan baik. Dia seorang pengusaha yang cukup sukses. Masalahnya sendiri sebetulnya saya kurang begitu mengerti kenapa hal ini bisa terjadi, hubungan kami terasa hambar dan hanya sekedar menjalani semuanya sebatas formalitas supaya kami masing-masing memiliki status menikah saja. Perasaan itu sebetulnya juga sangat dirasakan oleh suami. Bahkan hal ini juga berpengaruh terhadap sistem reproduksi kami. Sebetulnya saya dan suami sudah sangat merencanakan untuk memiliki momongan hanya saja selama setahun kami belum diberikan kesempatan untuk  memilikinya. Kemudian disela-sela kebimbangan tersebut maka saya mencoba-coba mencari solusi atas permasalahan saya. Banyak buku dan artikel yang saya baca membawa saya pada satu kesimpulan bahwa kami sepertinya kehilangan gairah utamanya dengan kehidupan sexual kami. Saya dan suami saya selama ini menganggap bahwa bercinta dengan pasangan bukan lagi sebagai kebutuhan namun hanya sekedar tugas sebagai pasutri. Layaknya bekerja bercinta juga mendapatkan porsi yang sama di pikiran kami. Bukan menjadi hal yang menyenangkan tetapi semakin lama justru semakin menjemukan. Berbagai cara kami upayakan untuk menghilangkan kesan tersebut. Konsultasi, minum obat, minum jamu bahkan mencoba beberapa eksperimen ketika berhubungan juga tidak menjadi solusi. Lalu saya menemukan ada sesi terapi yang bisa membantu mengatasi permasalahan yang sedang saya hadapi. Namanya neurotherapy dari penjelasan yang saya baca di websitenya dan ketika saya menghubungi costumer servicenya saya berminat sekali mencoba terapi tersebut. Saat terapi kami banyak melakukan diskusi bersama dan dapat ditarik kesimpulan bahwa ada banyak kejadian dimasa lalu yang tidak bisa saya ungkapkan disini dan menjadi semacam trauma bagi kami untuk menjalani hubungan ini. Kemudian saat terapi kami berdua secara bergantian diberikan sesi masing-masing untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Selesai terapi kami bisa mulai menerima kehadiran masing-masing dan tidak tahu kenapa lebih bisa menghargai dan merindukan keberadaannya. Inilah sesuatu yang selama satu tahun belakangan ini tidak pernah saya rasakan.   Setelah menjalani terapi ada perasaan yang berbeda di diri saya yang bisa saya rasakan. Kalau suami pulang agak telat pasti saya tanyakan dimana dia berada. Rasanya asik memiliki suami dan dia juga mulai memperhatikan saya.  Yang paling membuat kami semakin bahagia adalah saya dinyatakan positif hamil.

Lena, Purworejo.

 390 total views,  2 views today

Share Halaman Website Ini