Lima Belas Tahun Aku Membenci Keramaian.

Saya tidak tahu pasti kenapa hal ini bisa terjadi pada diri saya. Awalnya sekitar tahun 96an saat saya masih duduk di bangku SMP ketika tanpa alasan yang jelas saya selalu menghindari tempat umum apalagi jika tempat tersebut banyak orang dan saya hanya sendirian. Sebetulnya saya tidak ada masalah dengan pergaulan hanya saja ketika misalnya saya harus keluar sendiri katakanlah ke warung atau ke toko yang banyak orang rasanya saya sangat butuh keberanian ekstra. Saya punya banyak teman tapi tidak tahu kenapa ketika saya sendiri saya nggak berani untuk keluar rumah dan bertemu dengan orang banyak yang tidak saya kenal. Terkadang saya sampai tidak berani hanya untuk sekedar belanja di mini market karena rasanya disana nanti muncul perasaan cemas deg-degan tanpa sebab. Saya sangat tersiksa dengan kondisi seperti ini. Kalau mau keluar saya harus ditemani sama seseorang. Apalagi kalau perjalanan jauh sampai ke luar kota maka saya tidak akan mau jika saya mesti sendiri tanpa teman satupun. Dari SMP sampai SMA bahkan kuliah dan kerja saya tidak pernah mau naik kendaraan umum. Saya selalu minta dijemput maupun naik taksi. Untuk ngomong didepan banyak asalkan orang-orang tersebut saya kenal semuanya saya nggak ada masalah. Tapi kalau tidak ada seorangpun yang saya kenal maka apa yang saya seharusnya saya omongkan tidak jadi keluar dari mulut saya. Dan saat ini ketika saya sudah bekerja selama hampir empat tahun seharusnya saya yang lebih dewasa dan lebih berani menghadapi orang lain tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Pekerjaan saya sebagai seorang akuntan juga kurang bisa membantu mengalahkan kelemahan saya ini. Kemudian saya mencari solusi bagaimana supaya saya bisa selayaknya manusia normal yang tidak perlu takut untuk bertemu dengan orang banyak.  Lalau saya temukan ada suatu jenis terapi baru yang namanya neurotherapy. Meski baru dan belum begitu dikenal di Indonesia namun saya pernah baca sebenarnya terapi semacam ini  sudah cukup terkenal di Amerika. Lalu saya memutuskan untuk mencobanya. Saya konsultasi tentang masalah saya, katanya masalah seperti yang saya alami ini sebetulnya wajar dan bisa saja terjadi pada siapa saja. Kemudian yang pertama dilakukan adalah dengan mengukur gelombang otak dalam proses ini kita mencari tahu apakah ada masalah dengan aktivitas otak saya. Kemudian dilanjutkan dengan sesi terapi. Sesi terapi ini menggunakan banyak sekali metode NLP. Saya tahu karena saya pernah membaca hal tersebut hanya saja saya tidak pernah mempraktekannya terhadap diri saya. Setelah terapi saya jadi sadar bahwa apa yang saya alami ini awalnya adalah dari diri saya sendiri dan saya bisa mengatasinya. Saya tidak perlu berpikir bahwa apa yang saya alami selama ini adalah sebuah mimpi buruk karena kenyataannya saya bisa bebas dari belenggu yang selama ini  ada di diri saya.

Sisca, Bekasi.

 462 total views,  2 views today

Share Halaman Website Ini