Kesedihan Itu Akhirnya Sirna.

Aku adalah seorang pelajar SMU dan beberapa bulan yang lalu saya diputusin sama cowok saya sampai saya harus sedih terus-terusan.  Ini kali pertama saya deket sama laki-laki karena sebelumnya sejak dari SMP dulu saya takut untuk memulai hubungan dengan seorang cowok karena juga dilarang oleh keluarga. Saat SMA saya tinggal terpisah dengan orang tua saya karena saya yang asli Makassar memilih untuk tinggal di pulau Jawa tempat kelahiran ayah dan ibu saya dulu. Karena itulah saya berani dekat dengan laki-laki. Kalau di Makassar sana jangankan untuk pacaran teman yang datang kerumah saja sudah pasti nanti ditanyain macem-macem padahal kami Cuma temenan saja. Lalu saat mulai sekolah di malang ada temen cowok yang coba mendekatiku. Karena saya ngekost jadi kalau ada temen main gak masalah. Sampai malampun gak apa-apa asal gak lebih dari jam 9. kalau mau keluar rumah nonton atau nongkrong sama temen-temen juga lebih bebas. Jauh sekali dibandingkan ketika saya ada di Makassar. Orang tua saya sangat protektif. Singkat cerita kami berdua (temen cowok saya) semakin lama semakin dekat dan akhirnya kami jadian. Saya merasa cocok antara satu sama lain. Kami berdua menjalani hari demi hari seringkali bersama. Setiap kali mau ke sekolah dia selalu jemput aku naik motor dan pulang juga di anterin. Saya merasa punya keluarga disini meski kenyataannya saya adalah seorang pendatang. Selama kurang lebih hampir setahun kami pacaran tiba-tiba saja tanpa ada alasan yang jelas dia mutusin aku. Dan parahnya lagi hal itu membuat aku menjadi sangat sedih. Ke sekolah rasanya males banget dan apalagi kalau harus ketemu dia. Prestasi belajarku juga menurun banyak guru yang memperingatkan aku karena sekarang saya berubah tidak seperti dulu lagi. Hampir tiap malam saya nggak bisa tidur karena selalu teringat akan wajahnya yang selalu terbayang. Hampir setiap waktu aku sering banget ngelamun. Kesedihan yang aku rasakan terasa begitu luar biasa sampai-sampai aku merasa tidak bisa melakukan apa saja dan rasanya tuh males banget untuk ngapa-ngapain. Karena saya merasa hal-hal yang saya lakukan sudah tidak lagi bermanfaat untuk diri aku. Sampai suatu saat aku berpikir bahwa aku nggak bisa seperti ini terus. Lalu saya coba mencari solusi dengan menjalani neurotherapy karena ada salah satu teman saya yang dulu pernah terapi dengan metode tersebut dan berhasil. Akhirnya setelah aku menjalani satu kali terapi semua perasaan yang ada padaku jadi berubah. Jadi lebih semangat menjalani hidup. Aku juga ingin buktikan bahwa aku bisa hidup tanpa ada masalah meskipun nggak ada dia disisiku.

Iva, Malang.

 496 total views,  2 views today

Share Halaman Website Ini