Depresi Berat Bahkan Dibilang Sakit Jiwa.

Kejadian ini terjadi beberapa bulan yang lalu tepatnya beberapa saat setelah saya kehilangan istri saya. Ya kami telah menikah selama dua belas tahun dan dikaruniai dua orang anak yang lucu sekali. Saya tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Istri saya dipanggil olehnya begitu cepat dan bahkan jauh diluar perkiraan saya. Impian saya selama ini untuk membina rumah tangga kemudian membesarkan anak bersama-sama seakan-akan pupus sudah. Saya sempat bingung dan frustasi terhadap kehidupan saya dan tidak tahu apa yang seharusnya saya lakukan selanjutnya. Tapi anak-anak yang membuat saya bertahan saya tidak mau kalau mereka akhirnya tidak mendapat perhatian hanya karena kesedihan yang mendalam yang saya alami. Dibalik kepura-puraan yang saya lakukan sebenarnya saya masih sangat menyisakan perasaan sedih. Setiap malam saya tidak bisa tidur dan paginya saya harus ke kantor. Kerjaan terbengkalai dan banyak yang mengingatkan kalau saya nggak boleh kayak gini terus-terusan. Setiap malam saya merasa selalu terbayang-bayang wajahnya bahkan terkadang saya merasakan kehadirannya di sisi saya. Inilah yang membuat saya tidak kuat menjalaninya. Saya merasa sangat rapuh dan seakan kehilangan separuh hidup yang saya miliki. Tidak ada lagi gairah hidup dan semangat untuk melanjutkan kehidupan ini. Saya sering berpikir kasihan anak-anak tapi kenyataannya saya tidak bisa memberikan yang terbaik bagi mereka. Teman-teman banyak yang berkata bahwa keseharian saya jadi aneh tidak lagi riang dan bersemangat seperti sebelumnya. Ketika diajak ngobrol kadang saya bengong dan tidak memperhatikannya. Secara fisik juga menjadi acak-acakan dan sama sekali seperti tidak memperhatikan penampilan saya. Saya masih dikejar bayang kesedihan kehilangan istri saya. Bahkan memasuki bulan kedua setelah peristiwa itu saya masih saja terpuruk dan cenderung depresi menghadapi kenyataan hidup seperti ini.  Pada awalnya saya mengira hal ini hanyalah masalah waktu tetapi kenyataannya tidak karena sudah sebulan lebih saya kehilangan istri saya tapi masih saja saya belum bisa beranjak bangkit dari kesedihan yang saya rasakan. Bahkan saya sempat frustasi dengan apa yang saya rasakan saya tidak tahu lagi harus berbuat apa dan bingung harus menceritakan semua yang saya rasakan ini kepada siapa. Kemudian ada seorang teman yang memberikan saya solusi untuk menjalani terapi karena kondisi saya sangat parah. Jadi setiap hari hidup hanya sekedarnya. Malas makan, malas mandi sampai-sampai banyak orang mengira terkena gangguan jiwa.  Teman saya berujar bahwa dia pernah menjalani terapi yang namanya neurotherapy untuk membantu meringankan permasalahan hidup yang sempat menganggu kehidupannya. Neurotherapy sama sekali belum pernah terdengar di telinga saya. Katanya sih intinya adalah bisa membantu mengatasi permasalahan yang saat ini sedang saya hadapi. Akhirnya saya pun mencoba menjalani terapi tersebut dengan ditemani rekan saya. Saat pertama terapi saya mendapati gelombang otak saya yang cenderung memiliki aktivitas yang tinggi kemudian diberikan stimulus atau rangsangan agar berada pada level yang seharusnya. Kemudian saya dijadwalkan untuk menjalani terapi berikutnya untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang terjadi pada sesi terapi yang pertama sebelumnya. Setelah diperiksa pada sesi kedua terjadi perubahan yang signifikan pada aktivitas otak saya. Dari yang sebelumnya begitu besar aktivitasnya menjadi sangat-sangat wajar dan selayaknya manusia normal. Dan hal ini membuat saya merasa lega dan mulai siap menjalani hidup lebih baik bersama anak-anak yang saya sayangi.

Wildan Makali, Surabaya.     

 400 total views,  2 views today

Share Halaman Website Ini